Museum 'Horor' Bangkok

"Terjebak " liburan di Bangkok dengan keluarga / teman-teman yang hobinya "mall 2 mall" ? Ingin mencoba datang ke tempat yang aneh, unik, dan jarang didatangi turis-turis ? Boleh mencoba datang ke Siriraj Medical Museum di tepi sungai Chao Phraya, di dalam kompleks rumah sakit Siriraj.
Saya sudah beberapa kali ke Bangkok, dan walaupun sudah beberapa kali kesana, tapi tidak pernah merasa bosan, karena banyak sekali tempat-tempat baru atau yang menarik yang belum sempat dikunjungi. Kali ini saya  datang ke museum yang terkenal karena memajang benda-benda tidak biasa seperti janin bayi yang sudah diawetkan tengkorak , bukti-bukti asli kejahatan atau organ tubuh asli !


Hal yang pertama menarik mata ketika masuk ke dalam lingkungan rumah sakit Siriraj adalah adanya beberapa mobil polisi atau mobil ambulance bermerek mewah seperti Honda Altis, Opel Suburban, Mercedes, BMW ( wiih Thailand kaya benerr..), dan ada juga truck Bomb Squad dan SWAT. Hmm, Ternyata belakangan baru saya ketahui bahwa pada saat itu raja tercinta memang sedang sakit dan dirawat di situ. Oh, pantas saja…keamanannya lengkap sekali.
Setelah mencari museum tersebut ada di gedung yang mana, saya naik ke lantai 2. Tiket masuknya ke  40Baht ( sekitar Rp.12.000), tetapi itu mencakup untuk ke beberapa museum yang ada disitu Resepsionisnya memberitahu bahwa ada larangan tidak boleh memotret di dalam museum, tetapi saya bandel tetap membawa sebuah kamera saku kecil.

Ruangan pertama yang saya masuki adalah Ellis Pathological Museum,. Walaupun banyak bagian / panel-panel yang hanya bertuliskan bahasa Thailand, tetapi isi museum di ruangan lainnya sudah cukup penjelasan seadanya saja, karena apa yang terpampang sudah sangat jelas !

Ada beberapa kotak kaca yang berisi beberapa mayat bayi-bayi yang sudah diawetkan karena lahir mati atau meninggal segera setelah lahir yang mengalami penyimpangan medical seperti deformasi eksternal atau internal yang timbul dari berbagai penyakit atau dengan organ menonjol di luar tubuh, seperti bayi kembar siam dempet perut ( Thoracopagus Conjoined Twins), dengan bagian perut yang terbuka sehingga kita dapat melihat dengan jelas isi perut 2 bayi malang tersebut , atau janin kembar (Homozygous Twins ) dengan tali ari yang masih menjuntai. Whoo...seperti di laboratorium genectic experiment film science fiction !

Yang paling utama tentu saja adalah Songkran Niyomsane Forensic Medicine Museum, karena isi museum forensic ini berbagai macam hal yang berhubungan dengan kejahatan, seperti contoh bukti-bukti alat kejahatan seperti berbagai macam benda tajam untuk membunuh, mulai dari pisau, gunting, palu, obeng hingga berbagai macam borgol, peluru, granat, potongan bukti yang digunakan dalam kejahatan atau yang dipakai untuk gantung diri, seperti rantai, tali, handuk, kabel plastik, pakaian korban, ditampilkan dalam dalam kotak kaca, membantu untuk menerangkan mengapa studi forensik membutuhkan ketelitian, karena setiap keterangan rinci bisa menjadi bukti kejahatan yang paling signifikan. Seperti di dalam lab. CSI , semua bukti2 disimpan dengan rapih dan diberi keterangan detail.

Masuk ruangan museum ini, seperti berada di setting lokasi property pembuatan film horror ! Di meja kaca besar lainnya ada jejeran tengkorak manusia dengan beragam lubang di tempurung kepala seperti akibat luka tembakan, luka akibat benda tajam, luka akibat kecelakaan mobil, rengat dibacok, dan lain lain. Saya juga menemukan sebuah kepala utuh yang terpenggal dari seorang pria yang tidak dikenal akibat kecelakaan mobil, dan 2 kotak kaca berisi kepala yang sudah dibelah menjadi 2 bagian dari seorang pria yang mati karena ditembak, untuk menggambarkan bagaimana jalannya peluru di kepala korban dan kerusakan yang disebabkannya.

Nomor satu daya tarik museum ini tampaknya adalah mumi seorang pembunuh terkenal bernama Si Quey. Tubuhnya diletakkan berdiri di tengah ruangan dala kotak kaca bersama dengan tubuh pembunuh lainnya . Si Quey adalah pembunuh berantai , pemerkosa dan seorang kanibal paling terkenal dalam sejarah Thailand yang memakan hati lebih dari setengah lusin anak laki-laki. Dia rupanya percaya bahwa praktek itu membuatnya lebih kuat, sehat, dan abadi. Ia akhirnya dihukum mati dengan cara digantung, tetapi kemudian mayatnya dijadikan mumi , isi tubuhnya diisi dengan paraffin, dan bekas luka otopsi di dahinya masih jelas terlihat ( otaknya diteliti untuk melihat apakah pikiran seorang kanibal berbeda dengan orang lain ) . Ada kertas bertuliskan keterangan bahwa dia membunuh sebab dia suka memakan bagian tubuh orang, bukan karena dia kelaparan. Sick !!!!

Selain itu, masih banyak benda lainnya, seperti beberapa foto tubuh dari korban yang tewas dalam berbagai cara yang mengerikan, seperti tubuh korban dengan luka perut menganga karena ledakan bom , juga pameran dari organ tubuh manusia yang rusak oleh racun seperti arsenik, insektisida, atau yang organ yang rusak terkena berbagai penyakit seperti kanker paru-paru, sirosis hati, lidah orang yang mati bunuh diri dengan menembakan pistol ke dalam mulutnya. Ada pula sepotong pagar tajam beserta guntingan artikel tentang seorang pria yang badannya tertusuk pagar tajam tersebut.

Yang agak miris sih ada beberapa kotak berisi bayi-bayi dan sebuah janin lengkap dengan rahimnya , dan ada seorang bayi dengan tubuh membengkak karena tewas tenggelam dengan bekas jahitan otopsi terlihat jelas di perutnya.
Karena museum ini didalam wadah ilmu pengetahuan, pada saat saya datang juga ada rombongan pelajar setingkat SMP yang sedang berkunjung, seorang ibu dengan 2 anak kecil, dan 1-2 turis asing.

Walaupun ada larangan untuk memotret, tapi saya mencuri-curi kesempatan memotret beberapa kali jika si petugas yang jaga berkeliling tidak melihat. Sempet sih ditegur, tapi masih ramah koq caranya. Sekitar 2 jam saya disana , dan di jalan pulang saya berpikir, no fukkin way museum seperti ini bakal ada di Indonesia. Selain bakal ada demo dari para front2 gak jelas , masyarakat juga pasti belum bisa mengesampingkan masalah science dengan agama, kode etik, moralitas dan bla bla bla lainnya. Kalau pola pikir masyarakat terus begitu, no wonder lah ilmu pengetahuan di Indonesia akan tetap berjalan di tempat, dan semakin tertinggal di belakang negara tetangga lain.

Baca website resminya disini